Estimasi waktu baca: 5 menit.
Setiap 28 Oktober, Indonesia memperingati Sumpah Pemuda, sebuah tonggak sejarah yang menegaskan cita-cita satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Pada 2026, peringatan ini memasuki tahun ke-98 sejak Kongres Pemuda II pada 1928. Maknanya tetap relevan karena masyarakat Indonesia terus menghadapi perbedaan pandangan, kesenjangan kesempatan, dan perubahan cara generasi muda berpartisipasi dalam kehidupan publik.
Sumpah Pemuda bukan sekadar kalimat yang dihafalkan dalam upacara. Ia lahir dari proses pertemuan, pertukaran gagasan, dan kesediaan kelompok dengan latar berbeda untuk membangun tujuan bersama. Semangat tersebut dapat menjadi pedoman ketika masyarakat membicarakan isu pendidikan, pekerjaan, lingkungan, teknologi, dan keadilan sosial.
Persatuan tidak berarti semua harus sepakat
Dalam masyarakat demokratis, perbedaan pandangan merupakan hal wajar. Persatuan tidak menuntut warga meninggalkan kritik, melainkan mengelola perbedaan tanpa kekerasan dan tanpa merendahkan martabat orang lain. Debat tentang kebijakan dapat membantu menemukan masalah yang belum terlihat, selama argumen didukung informasi dan lawan bicara diperlakukan secara adil.
Di ruang digital, tantangannya menjadi lebih kompleks. Konten emosional sering menyebar cepat, sedangkan penjelasan yang bernuansa membutuhkan waktu. Foto lama dapat dibagikan ulang tanpa konteks, dan potongan video dapat memberi kesan berbeda dari peristiwa utuh. Literasi digital—memeriksa tanggal, sumber awal, lokasi, serta konfirmasi lain—merupakan bagian dari tanggung jawab kewargaan masa kini.
Kesempatan bagi generasi muda
Makna kebangsaan perlu hadir dalam kesempatan yang nyata. Akses pendidikan bermutu, pelatihan kerja, ruang kreatif, fasilitas olahraga, dan dukungan bagi usaha rintisan membantu anak muda mengembangkan kemampuan. Pemuda dari wilayah terpencil, keluarga berpenghasilan rendah, atau kelompok yang kerap kurang terwakili perlu memperoleh kesempatan yang adil untuk berpartisipasi.
Organisasi pemuda dapat menjadi ruang belajar kepemimpinan dan kolaborasi. Kegiatan sukarela, forum diskusi, proyek lingkungan, pendampingan belajar, dan pelestarian budaya memungkinkan anak muda bekerja bersama lintas latar. Kegiatan semacam itu juga mengajarkan keterampilan praktis: merancang program, mengelola anggaran, menyelesaikan konflik, dan mengevaluasi hasil.
Bahasa bersama dan keberagaman budaya
Bahasa Indonesia menjadi jembatan komunikasi antardaerah, tetapi penggunaannya tidak harus menghapus bahasa daerah. Bahasa lokal menyimpan pengetahuan, cerita, ungkapan, dan cara memahami lingkungan. Keduanya dapat hidup berdampingan: bahasa Indonesia membuka ruang pergaulan nasional, sementara bahasa daerah memperkaya identitas komunitas dan warisan keluarga.
Pelestarian budaya juga tidak cukup dengan mengenakan pakaian tradisional pada hari peringatan. Dukungan terhadap seniman, dokumentasi cerita lisan, pembelajaran musik dan tari, serta pemanfaatan ruang publik untuk kegiatan budaya membantu tradisi tetap hidup. Generasi muda dapat menggabungkan teknologi dengan praktik tradisional tanpa menghilangkan penghormatan pada asal-usulnya.
Menjadikan peringatan sebagai komitmen
Sekolah dan kampus dapat memperingati Sumpah Pemuda dengan diskusi sejarah yang menghubungkan masa lalu dengan persoalan hari ini. Pemerintah daerah dapat membuka forum konsultasi anak muda dan menyediakan ruang aman bagi gagasan yang berbeda. Perusahaan dapat memberi kesempatan magang dan pelatihan yang transparan, sementara komunitas dapat merancang kegiatan yang menjawab kebutuhan setempat.
Ukuran partisipasi bukan hanya jumlah peserta acara. Hal yang lebih penting adalah apakah gagasan ditindaklanjuti, apakah kelompok yang biasanya tidak terdengar ikut dilibatkan, dan apakah program memberi manfaat yang dapat dilihat. Komitmen perlu memiliki tujuan, jadwal, penanggung jawab, dan evaluasi sederhana.
Warisan yang terus dikerjakan
Semangat 1928 menjadi kuat karena para pemuda berani membayangkan masa depan yang lebih luas daripada kepentingan kelompok masing-masing. Generasi hari ini menghadapi tantangan berbeda, tetapi kebutuhan untuk bekerja sama tetap sama. Persatuan dibangun lewat tindakan berulang: mendengarkan, memeriksa fakta, memberi kesempatan, merawat lingkungan, dan menjaga ruang publik tetap terbuka.
Peringatan ke-98 Sumpah Pemuda dapat menjadi awal untuk memperbarui komitmen tersebut. Sejarah memberi arah, tetapi manfaatnya ditentukan oleh pilihan yang dibuat masyarakat setiap hari.