JAKARTA — Sejumlah indikator ekonomi Indonesia menunjukkan perkembangan positif menjelang pengumuman pertumbuhan ekonomi triwulan III 2026 pada 5 November mendatang. Inflasi tahunan Oktober tercatat 3,23 persen, neraca perdagangan September membukukan surplus 3,36 miliar dolar AS, sementara aktivitas manufaktur kembali menguat dengan Purchasing Managers’ Index (PMI) mencapai 54,0.
Rangkaian data tersebut menjadi perhatian pelaku usaha dan masyarakat karena memberikan gambaran mengenai daya tahan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global. Meski sejumlah indikator bergerak positif, tantangan seperti kenaikan harga pangan tertentu, kebutuhan bahan baku industri, dan kondisi perdagangan dunia masih perlu dicermati.
PMI manufaktur naik ke level 54,0
PMI manufaktur Indonesia pada Oktober 2026 tercatat sebesar 54,0, meningkat dibandingkan posisi 52,4 pada September. Angka di atas 50 menandakan aktivitas industri berada dalam fase ekspansi. Kenaikan ini juga menunjukkan perbaikan yang kuat dibandingkan bulan sebelumnya dan menjadi capaian tertinggi sejak Maret 2024.
Penguatan indeks terutama ditopang peningkatan pesanan baru. Permintaan yang membaik mendorong perusahaan meningkatkan kegiatan produksi, pembelian bahan baku, serta persediaan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Permintaan ekspor baru juga dilaporkan tumbuh, memberi sinyal bahwa sebagian pelaku industri memperoleh peluang dari pasar luar negeri.
Namun, ekspansi manufaktur tidak otomatis berarti seluruh sektor industri mengalami pertumbuhan yang sama. Kondisi setiap subsektor dapat berbeda, bergantung pada biaya energi, ketersediaan bahan baku, kemampuan logistik, dan daya beli konsumen. Perusahaan juga perlu memastikan kenaikan pesanan dapat diterjemahkan menjadi produksi dan penjualan yang berkelanjutan.
Surplus perdagangan ditopang ekspor nonmigas
Neraca perdagangan Indonesia pada September 2026 mencatat surplus sebesar 3,36 miliar dolar AS. Nilai ekspor pada bulan tersebut mencapai 27,59 miliar dolar AS, sedangkan impor tercatat 24,23 miliar dolar AS. Dengan hasil itu, Indonesia mempertahankan surplus perdagangan selama tiga bulan berturut-turut.
Surplus terutama ditopang perdagangan nonmigas. Kinerja ekspor sejumlah komoditas, antara lain batu bara, gas alam, minyak kelapa sawit, karet alam, bijih besi, dan tembaga, ikut memberi kontribusi. Di sisi lain, kebutuhan impor barang baku dan barang modal menunjukkan aktivitas produksi serta investasi tetap membutuhkan pasokan dari luar negeri.
Surplus perdagangan perlu dibaca bersama komposisi ekspor dan impor. Kenaikan ekspor dapat memperkuat penerimaan devisa, tetapi ketergantungan pada sejumlah komoditas membuat kinerja perdagangan sensitif terhadap perubahan harga global. Karena itu, peningkatan nilai tambah melalui pengolahan di dalam negeri dan perluasan pasar ekspor menjadi pekerjaan penting agar manfaat perdagangan lebih luas dirasakan industri nasional.
Inflasi terkendali, tetapi harga pangan tetap perlu diawasi
Inflasi tahunan Oktober 2026 tercatat 3,23 persen, masih berada dalam sasaran inflasi nasional 2,5 persen dengan toleransi satu persen. Inflasi inti berada di 2,56 persen, sedangkan kelompok harga yang diatur pemerintah tercatat 3,24 persen. Angka tersebut menunjukkan tekanan harga secara umum masih berada dalam rentang sasaran.
Meski demikian, kelompok pangan bergejolak atau volatile food mencatat inflasi 5,81 persen secara tahunan. Kenaikan harga cabai rawit, cabai merah, dan tomat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Penurunan produksi akibat kondisi musim kemarau yang lebih panjang turut memberi tekanan pada pasokan sejumlah komoditas hortikultura.
Bagi rumah tangga, perkembangan harga pangan sering kali lebih terasa dibandingkan angka inflasi umum. Pemerintah pusat dan daerah perlu menjaga kelancaran distribusi, memantau stok, serta memperkuat koordinasi antardaerah yang mengalami surplus dan kekurangan pasokan. Langkah tersebut penting agar gejolak harga tidak menggerus daya beli, khususnya kelompok masyarakat berpendapatan rendah.
Apa artinya bagi masyarakat dan dunia usaha?
Kombinasi PMI yang menguat, surplus perdagangan, dan inflasi yang masih berada dalam sasaran memberi modal positif bagi perekonomian. Bagi dunia usaha, permintaan baru dan aktivitas produksi yang meningkat dapat membuka ruang untuk memperluas kapasitas, menambah jam kerja, atau merekrut tenaga kerja apabila tren tersebut berlanjut.
Bagi masyarakat, stabilitas harga menjadi faktor penting agar perbaikan ekonomi dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Pertumbuhan industri dan ekspor akan lebih bermakna apabila ikut menciptakan lapangan kerja, menjaga pendapatan, serta memperkuat ketersediaan barang dengan harga yang terjangkau.
Pelaku usaha tetap perlu berhati-hati dalam mengambil keputusan. Perubahan permintaan global, harga komoditas, nilai tukar, dan biaya produksi dapat memengaruhi prospek dalam beberapa bulan ke depan. Penguatan produktivitas, efisiensi energi, diversifikasi pasar, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia dapat membantu industri menjaga daya saing.
Menanti data pertumbuhan ekonomi 5 November
Perhatian berikutnya tertuju pada rilis pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan III 2026 yang dijadwalkan pada 5 November. Data tersebut akan memberikan gambaran lebih menyeluruh mengenai kontribusi konsumsi rumah tangga, investasi, belanja pemerintah, dan perdagangan terhadap aktivitas ekonomi nasional.
Indikator terkini memberi sinyal bahwa sejumlah sektor masih bergerak positif, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh tantangan telah teratasi. Kualitas pertumbuhan, pemerataan manfaat, penciptaan pekerjaan, dan kemampuan menjaga harga kebutuhan pokok tetap menjadi tolok ukur penting.
Dengan demikian, momentum perbaikan manufaktur dan perdagangan perlu dijaga melalui kebijakan yang konsisten serta kolaborasi pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Hasil pertumbuhan ekonomi yang akan diumumkan pekan ini akan menjadi salah satu penentu untuk menilai seberapa kuat fondasi ekonomi Indonesia memasuki akhir 2026.